Senin, 25 April 2011

EOS 550D, RESOLUSI TINGGI DI KELAS MENENGAH



Untuk mempertahankan tahtanya sebagai produsen kamera dengan pangsa pasar terbesar, Canon meluncurkan EOS 550D untuk menggantikan posisi EOS 500D. Sebagai DSLR kelas menengah, yang berada satu kelas di atas DSLR entry level, kamera tersebut ditawarkan dengan harga yang kompetitif. Apalagi, saat dilihat dari spesifikasinya, fitur yang ditawarkan EOS 550D hampir mirip dengan EOS 7D. Padahal, harga EOS 7D hampir dua kalinya. Akan tetapi, kedua kamera tersebut memiliki konsep pengoperasian yang jauh berbeda karena keduanya bermain di kelas yang berbeda pula.

Dibandingkan dengan pendahulunya, desain bodi EOS 550D tidak banyak me­ngalami perubahan. Canon hanya menambahkan tombol baru untuk perekam video sebagai satu-satunya perubahan pada desain bodi. Rupanya, Ca­non lebih menitikbe­ratkan pada sisi dalam kamera sehingga kamera baru tersebut dapat bersaing dengan para kompetitor di kelasnya.


Fitur Meningkat Tajam

Karena para kompetitornya sudah lebih dulu menawarkan sebuah DSLR kelas mene­ngah yang sarat dengan feature, Canon memutuskan untuk meluncurkan pesaing baru dengan spesifikasi sangat tinggi.

Perubahan pertama dilakukan de­ngan meningkatkan resolusi EOS 550D menjadi 18,7 Megapixel. Resolusinya menjadi yang tertingggi di kelasnya. Untuk menampilkan hasilnya, digunakan layar LCD 3,0 inci beresolusi 1.040.000 Pixel. Pendahulunya sudah menggunakan jenis yang sama. Namun, Canon melakukan perubahan format LCD menjadi 3:2 pada EOS 550D. Dengan format baru tersebut, LCD kamera dapat menampilkan gambar secara utuh karena sensor kamera juga menggunakan format yang sama. Hal tersebut menguntungkan saat kamera sedang menjalankan mode Live View atau perekam video.


Namun, perbaikan yang patut diperhitungkan pada EOS 550D terletak pada sistem meteringnya. Kamera tersebut sudah menggunakan sistem metering bertek­nologi iFCL berjumlah 63-titik sensor yang mulai diperkenalkan di EOS 7D. Teknologi metering tersebut menggunakan semua sensor fokus, tonal warna, dan kualitas cahaya sebagai referensi pengukuran pencahayaan. Karena itu, hasil pengukuran pencahayaan menjadi lebih akurat dan konsisten. Bahkan, saat digunakan pada situasi backlight, pen­cahayaan yang dihasilkan relatif baik.

Yang terasa lebih istimewa, EOS 550D juga mempunyai cakupan nilai kompensasi pencahayaan yang jauh lebih luas. Pada umumnya, kamera hanya memiliki pilihan kompensasi dari -2 EV samapi +2EV. Pada EOS 550D, cakupan nilai kompensasi pencahayaan diperluas dari -5EV sampai +5EV. Hanya saja, nilai baru tersebut bisa dilihat hanya di LCD. Di viewfinder, parameter nilainya tetap dari -2 EV sampai +2 EV. De­ngan cakupan nilai kompensasi yang lebih luas, Anda tidak perlu lagi harus pindah ke mode pemotretan manual di saat harus melakukan kompensasi pencahayaan secara ekstrem saat di situasi berkontras tinggi. Dengan demikian, pemotretan dapat dilakukan dengan lebih mudah dan nyaman.

Yang benar-benar baru dari EOS 550D adalah baterainya. EOS 550D menggunakan baterai tipe BP-E8. Secara otomatis, battery grip pun harus menggunakan tipe yang baru, BG-E8. Dalam pengujian di lapangan, baterai tersebut memiliki performa yang terbilang baik. Ba­terai dapat digunakan untuk melakukan lebih dari 600 pemotretan.

Bodi EOS 550D dan lensa EF-S 18-135 mm merupakan pasangan yang fleksibel untuk digunakan dalam banyak situasi. Keduanya pun mampu menunjukkan hasil yang nyaris sempurna saat digunakan untuk mendokumentasikan aktivitas sehari-hari di sekeliling kita.

Untuk mengetahui secara lebih jauh performa EOS 550D, CHIP Foto Video telah menampilkan hasilnya di Majalah CHIP Foto Video Edisi 05/2010

Selasa, 19 April 2011

NIKON D300s vs CANON EOS 7D



Bila kita bicara tentang perseteruan dua raksasa di dunia DSLR, maka fokus bahasan kita tak bisa lepas dari kompetisi dua papan atas Canon vs Nikon. Keduanya punya sejarah panjang di dunia fotografi, punya koleksi lensa yang lengkap dan punya dua kelompok kelas DSLR yaitu kelas sensor APS-C dan sensor full frame. Kamera DSLR bersensor APS-C sendiri biasa dikenal sebagai DSLR crop-sensor karena ukuran sensornya yang lebih kecil dari ukuran film 35mm, menyebabkan lensa yang terpasang mengalami koreksi fokal (crop factor). Nah, bicara soal DSLR APS-C, kita mengenal DSLR paling basic sampai paling canggih, mulai dari harga 5 juta hingga 20 juta. Kali ini saya coba ulas pertarungan dua DSLR paling bergengsi, paling canggih dan paling panas di kelas DSLR APS-C.

Nikon D300s mungkin cuma menambah fitur HD movie pada produk lamanya D300 (tanpa huruf s), tapi D300s tetaplah menjadi DSLR Nikon tercanggih di kelas APS-C. Kamera semi-pro ini punya keunggulan di jumlah titik AF yang mencapai 51 titik, dan di seri D300s ini kini sudah dilengkapi dengan dual memory card. Di lain pihak, Canon EOS 7D merupakan kejutan dari Canon setelah mereka dianggap kurang sukses dengan EOS 50D-nya. EOS 7D menjadi DSLR APS-C dengan resolusi tertinggi sepanjang sejarah dengan 18 MP (atau 50% lebih tinggi dari Nikon D300s yang ‘cuma’ 12 MP) dan EOS 7D memperbaiki kekurangan utama di 50D dalam urusan titik fokus (dari 9 titik menjadi 19 titik AF).

Baik D300s ataaupun EOS 7D sama-sama kamera kelas atas yang berbodi magnesium alloy, tangguh untuk dipakai outdoor dan punya 100% viewfinder coverage. Dari luar, keduanya pun tampak mirip dengan layar LCD 3 inci beresolusi tinggi, tampak atas keduanya memiliki top LCD, dan saat melihat jeroannya pun kedua kamera ini punya banyak kesamaan. Unit shutter keduanya teruji hingga 150.000 kali jepret, sementara keduanya mampu mendukung wireless flash, plus dilengkapi fitur virtual horizon. Soal kinerja, keduanya memang pekerja cepat dengan kemampuan 7 fps. Meski keduanya mampu dipakai hingga ISO 6400 (bahkan 7D mampu hingga ISO 12800), namun sensor APS-C sendiri menurut saya memiliki batas aman di ISO 3200 saja.

Perbedaan mendasar antara keduanya hanyaalah dalam hal-hal minor. Sensor CMOS dari EOS 7D yang dijelali 18 juta piksel mungkin akan jadi kelebihan atau bisa jadi kekurangan dari kamera Canon ini. Bila kebutuhan akan resolusi ekstra tinggi begitu besar, maka 7D ini cocok dipilih daripada membeli DSLR full frame 24 MP yang lebih mahal. EOS 7D juga lebih cepat dengan 8 fps, bahkan saat memakai file format RAW 14-bit. Belum lagi pilihan akan resolusi HD video (1080i atau 720p) dan pilihan frame rate (30 atau 24 fps), sementara Nikon D300s hanya menyediakan 720p 24 fps saja. EOS 7D juga menyediakan histogram saat mode live-view yang berguna untuk mengevaluasi eksposure.

Nikon D300s unggul dalam keleluasaan dual slot memori untuk back-up dan manage data foto. Kita juga bisa menentukan file RAW disimpan di memori pertama dan file JPEG disimpan di memori kedua, secara bersamaan. D300s juga punya banyak titik AF (51 titik) meski EOS 7D memperkenalkan zone AF di 19 titiknya. D300s juga punya fitur unik yaitu memotret dengan senyap dengan suara cermin yang pelan (quiet shutter release).

Artikel ini ditulis hanya untuk memberi gambaran kesamaaan dan perbedaan antara dua kamera DSLR kelas elit dari Nikon dan Canon, dan bukan dimaksudkan sebagai panduan untuk membeli kamera DSLR kelas semi-profesional. Alasannya adalah karena mereka yang memilih DSLR seharga 20 jutaan seperti ini tentu adalahlah para fotografer serius yang sudah sangat mengerti apa yang akan mereka pilih, dan juga mereka telah memiliki sistem lengkap seperti lensa dan lampu kilat yang satu merk. Tapi seandainya diantara pembaca ada yang sedang bimbang akan memilih EOS 7D atau Nikon D300s, percayalah, kamera manapun yang anda pilih akan membuat anda puas dan ketagihan memotret….

Kamis, 14 April 2011

TIPS MENGAMBIL GAMBAR DENGAN HP


1. GUNAKAN RESOLUSI TERTINGGI.
Resolusi yang lebih tinggi akan menghasilkan gambar yang lebih jelas dan tajam.
2. BERSIHKAN LENSA SECARA BERKALA.
Lensa kamera ponsel tidak anti debu, kotoran dan sidik jari. Bersihkan secara berkala dengan kain pembersih lensa yang bisa didapatkan di toko-toko kacamta atau kamera.
3. EDIT GAMBAR DI PC
Menyenangkan juga menggunakan fitur editing dan efek-efek yang di sediakan oleh ponsel.Namun melakukan editing gambar di komputer akan menghasilkan kualitas gambar yang jauh lebih baik. Ambil gambar berwarna dengan resolusi tertinggi. Hal ini dimaksudkan, nantinya kita bisa merubahnya menjadi black and white di PC. Tapi kalau kita membuat gambar black and white di ponsel, kita tidak bisa lagi merubahnya menjadi berwarna.
4. RENCANAKAN SUBJEK DENGAN BAIK.
Semakin baik kerangka rancangan subjek foto maka akan semakin jelas gambarnyaApabila memungkinkan, atur ISO/WHITE BALANCE dan pengaturan lanjutan kamera lain yang disediakan kamera ponsel. Rencanakan pengambilan gambar di luar ruangan atau nyalakan lampu bila harus mengambil gambar didalam ruangan.
5. MENDEKATI OBJEK .
Satu dari kebanyakan kesalahan yang dilakukan dengan kamera ponsel adalah objek foto terlihat kecil, tidak dikenali bahkan terlalu jauh. Gambar yang dihasilkan kamera ponsel cenderung menjadi kecil akibat resolusi yang rendah. Untuk itu penuhilah viewfiner dengan subjek foto. Namun, jangan terlalu dekat, karena bisa mengakibatkan distorsi berupa kurang fokusnya gambar dan sebagainya.
6. JANGAN GUNAKAN ZOOM DIGITAL.
Zoom digital sebenarnya akan mengurangi kualitas jepretan kamera. Jangan gunakan fitur ini. Kita bisa memperbesar gambar yang diinginkan dengan melakukan editing di PC, dengan menggunakan software tertentu.
7. JANGAN BERGERAK.
Seperti halnya semua jenis fotografi, semakin kecil gerakan saat mengambil gambar, akan semakin jelas gambar yang dihasilkan. Hal ini penting saat pengambilan dengan pencahayaan minim. Lebih baik lagi apabila kita bersandar pada objek solid saat memotret, seperti meja atau dinding.
8. BEREKSPERIMEN DENGAN WHITE BALANCE.
Banyak kamera ponsel menyediakan fitur pengatur white balance,yang memungkinkan kita memodifikasi keseimbangan warna pada gambar berdasarkan kondisi pengambilan gambar. Percobaan-percobaan layak anda lakukan untuk mendapatkan hasil terbaik, berdasarkan kondisi cuaca saat itu.
9. JEPRET GAMBAR SEBANYAK MUNGKIN.
Keuntungan fotografi digital (termasuk kamera ponsel) adalah kita bisa mengambil gambar sebanyak mungkin tanpa mengeluarkan biaya. Artinya kita bisa bereksperimen dengan mode-mode pemotretan berbeda termasuk hal komposisi dan membuangnya ketika tidak membutuhkannya.
10. IKUTI ATURAN DAN SESEKALI MELANGGARNYA.
Pelajari aturan komposisi dasar fotografi (semisal jangan meletakkan subjek ditengah-tengah frame tetapi di sepertiga bagiannya).
Tips sederhana seperti ini akan menghidupkan hasil foto.Tapi ingatlah bahwa keindahan kamera ponsel adalah kemampuannya membebaskan diri dari semua batasan, termasuk aturan dasar fotografi diatas. Jadi. ambillah gambar dari setinggi pinggang dari dasar lantai, dari atas, atau apapun itu yang membuatnya menjadi lebih unik.
11.MEMOTRET PADA LEVEL MATA.
Usahakan memotret sejajar dengan objek atau pandangan mata. Memotret dengan sudut yang lebih tinggi atau lebih rendah membuat hasil foto kurang enal dilihat.
12. GUNAKAN BACKGROUND SEDERHANA, TAK TERLALU RAMAI.
Background yang simpel akan menguatkan objek yang hendak difoto. Sebaliknya, background yang terlalu ramai akan mengaburkan fokus objek.
13. PAKAILAH SELURUH OBJEK
Terkadang orang hanya memfokuskan pada objek pemotretan saja tanpa memperhatikan lingkungan sekitarnya. Foto anda dapat lebih 'berbicara' jika anda juga mengambil gambar latarnya seperti gunung, batu, dedaunan, gedung dll.
14. JANGAN TEMPATKAN OBJEK TEPAT DI TENGAH-TENGAH FOTO.
Dengan menempatkan objek tidak ditengah-tengah gambar menjadikan foto anda lebih menarik dan banyak objek lain yang dapat tertangkap.
15. HINDARI PENCAHAYAAN YANG KURANG.
Kamera ponsel sulit untuk menangkap detail objek dalam kondisi kurang cahaya. Meski dibantu lampu flash, terkadang hasilnya tetap tak optimal karena rata-rata flash pada ponsel hanya efektif pada jarak setengah sampai satu meter. Makin terang pencahayaan, makin banyak detil yang tertangkap.
16. ATUR LEVEL BRIGHTNESS
Jika gambar yang dihasilkan kamera ponsel terlalu gelap atau terlalu terang. Cobalah atur brightnessnya sebelum mengambil gambar, terutama untuk objek-objek yang kaya warna.
17. ATUR WHITE BALANCE
Pada beberapa kasus anda tidak menemukan kondisi pencahayaan yang diinginkan. Jika hal ini terjadi, aturlah white balance kamera ponsel. Cara paling praktis adalah dengan mengatur white balance ke auto. Jika anda punya banyak waktu, silahkan mencoba caraberikut ini :- tempatkan kertas putih di depan anda, sebaiknya kertas HVS yang benar-benar baru diambil dari boks, atau kertas lainnya.- aktifkan kamera ponsel.- lihatlah kertas putih tersebut dari jendela kamera ponsel anda.- jika kertas terlihat terlalu kuning atau merah misalnya, masuklah ke menu white balance dan aturlah sehingga kertas bisa terlihat seputih mungkin.
18. HINDARI CAHAYA DI BELAKANG OBJEK
Sebelum mengambil gambar, tentukan terlebih dahulu dari arah mana datangnya cahaya. Cahaya berasal dari belakang objek, seakan-akan menjadi silau. Paling baik adalah jika sumber cahaya berasal dari belakang anda yang sedang memotret objek.
19. POTRETLAH DALAM JARAK DEKAT.
Kamera ponsel menggunakan panjang fokus lensa (jarak antara pusat optikal pada lensa dengan objek) yang tetap. Panjang fokus lensa kamera ponsel sangat pendek.Jika anda menemukan angka-angka di ekat lensa kamera ponsel seperti 'f 2.3' atau 'f 1.3'. Itulah yang dinamakan panjang fokus lensa. Ambillah jarak sekitar 1 sampai 2 meter saja.
20. JANGAN GUNAKAN FASILITAS ZOOMING
Beberapa ponsel menyertakan kemampuan zoom pada kameranya. Jangan tergoda untuk menggunakannya, khususnya untuk mengambil objek jarak jauh. Zooming akan mengurangi kualitas gambar.